a. Protein
Protein merupakan
bahan utama dalam pembentukan sel jaringan, baik jaringan tubuh tumbuh-tumbuhan
maupun tubuh manusia dan hewan. Karena itu protein disebut unsur pembangun
(Moehji, 2002). Menurut Almatsier (2002), protein adalah bagian dari semua sel
mahluk hidup yang merupakan bagian terbesar tubuh kedua setelah air. Protein
tersebar diseluruh bagian tubuh manusia, yaitu di otot, kulit, jantung,
paru-paru dan otak yang tersebar sebagai cairan tubuh. Protein terbentuk dari
unsur-unsur organik yaitu karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O) dan nitrogen
(N). satu-satunya sumber nitrogen bagi tubuh berasal dari protein. Molekul protein
tersusun dari unsur-unsur kimia tersebut dan dinamakan asam amino. Asam-asam
amino yang menyusun protein ini saling berhubungan membentuk suatu ikatan yang
disebut ikatan peptida dengan jumlah mencapai ratusan asam amino (ikatan
polipeptida) (Linder, 1992).
Protein memegang peranan
esensial dalam mengangkut zat-zat gizi dari saluran cerna melalui dinding
saluran cerna kedalam darah, dari darah ke jaringan-jaringan, dan melalui
membran sel ke dalam sel-sel (Almatsier, 2002). Selain itu protein juga
berfungsi sebagai alat angkut zat gizi lain, seperti Fe sebagai transferin dan
feritin, berperan dalam pembentukan ikatan esensial tubuh, seperti enzim dan
beberapa hormone tertentu, pembentukan antibody, dan memelihara netralitas
tubuh (Almatsier, 2003; Murray, et al.,
2000).
Andrew (1999) dalam Mulatsih
(2004) menjelaskan bahwa transferin adalah protein utama pengangkut besi, suatu
beta globulin dan dihasilkan oleh hati. Transferin memiliki waktu paruh 8-11
hari. Tiap-tiap molekul transferin dapat mengikat dan membawa dua molekul besi
dalam bentuk ferri. Transferin akan membawa besi ke sumsum tulang atau ke organ
lain apabila sumsum tulang mengalami kerusakan atau kelebihan jumlah besi yang
siap disimpan dalm sumsum tulang. Pada keadaan tidak ada transferin, protein
lain akan mengikat besi tetapi membawa besi tersebut ke organ lain seperti
hati, limpa, pankreas, dan sedikit ke sumsum tulang. Dalam keadaan normal
kira-kira sepertiga transferin bisa mengikat besi.
Feritin adalah bentuk storage
besi dan mengandung bentuk ferri, jika besi feritin diberikan kepada transferin
untuk ditranspor zat besinya dan diubah menjadi ferro maka sebaliknya besi dari
transferin yang berasal dari penyerapan di dalam usus diberika kepada feritin
sambil diubah dalam bentuk ferri untuk kemudian ditimbun (Sediaoetoma, 2000).
Dalam proses pencernaan
makanan, protein diabsorbsi oleh tubuh dalam bentuk asam-asam amino. Sebagian
asam amino dipecah dalam sel untuk disintesa kembali menjadi zat lain yang
mengandung energi. Kelebihan protein dalam tubuh akan disimpan menjadi glikogen
dan asam lemak (Almatsier, 2001).
Sumber protein banyak
tersebar pada bahan makanan, baik hewani maupun nabati. Hampir semua bahan
makanan hewani, seperti susu, telur, daging, dan ikan merupakan sumber protein
yang baik. Sedangkan bahan makanan sumber protein nabati terdapat pada
kacang-kacangan terutama kedelai dan kacang hijau serta hasil olahnya, seperti
tempe dan tahu (Sediaoetama, 2000). Dikemukakan oleh Almatsier (2001) bahan makanan hewani
merupakan sumber protein yang baik, dalam jumlah maupun mutu, seperti telur,
susu, daging, unggas, ikan, dan kerang. Sementara kacang kedelai merupakan
sumber protein nabati yang mempunyai mutu atau nilai biologi tinggi.
Kebutuhan protein menurut
FAO/WHO/UNU (1985) adalah konsumsi yang diperlukan untuk mencegah kehilangan
protein tubuh dan memungkinkan produksi protein yang diperlukan dalam masa
pertumbuhan, kehamilan atau menyusui. Secara umum kebutuhan protein adalah 0,8
sampai 1,0 gram/Kg BB/hari, tetapi bagi mereka yang bekerja berat kebutuhan
protein bertambah. Penelitian membuktikan bahwa kegiatan olahraga yang teratur
meningkatkan kebutuhan protein. Atlet dari olahraga yang memerlukan kekuatan
dan kecepatan perlu mengkonsumsi 1,2-1,7
gram protein/Kg BB/hari (kurang lebih 100-212% dari yang dianjurkan) dan atlet endurance memerlukan protein 1,2-1,4
gram protein/Kg BB/hari (100-175% dari anjuran). Jumlah protein tersebut dapat
diperoleh dari diet yang mengandung12-15% protein. Perbandingan protein hewani
dan protein nabati sebaiknya 1:1 (Irianto, 2007).
b.
Vitamin C
Vitamin C merupakan salah
satu dari vitamin larut air yang berbentuk Kristal berwarna putih, sangat larut
dalam air dan alcohol, juga stabil dalam keadaan kering, tetapi mudah
teroksidasi dalam keadaan larutan, apalagi dalam suasana basa (Almatsier,
2003). Vitamin C tidak stabil dalam larutan alkali, tetapi cukup stabil dalam
larutan asam. Vitamin C adalah vitamin yang paling labil (Linder, 1992).
Menurut Moehji (2002) vitamin
C dalam tubuh berguna dalam pembentukan dan pemeliharaan zat perekat yang
menghubungkan sel-sel dengan sel dari berbagai jaringan. Kekurangan vitamin C
dapat juga menyebabkan lemahnya dinding kapiler-kapiler darah sehingga
mempermudah pendarahan, perubahan susunan tulang dan tulang muda (kartilase), gusi dan gigi. Vitamin C
berpengaruh dalam pembentukan sel darah dalam sum-sum tulang serta untuk
menjaga agar kadar hemoglobin dalam darah tetap dalam batas normal. Vitamin C
diperlukan dalam penyerapan zat besi (Fe), dengan demikian vitamin C berperan
dalam pembentukan hemoglobin.
Almatsier (2002) menjelaskan
bahwa vitamin C sangat membantu penyerapan besi non hem dengan merubah bentuk
ferri menjadi bentuk ferro yang lebih mudah diserap. Dengan adanya vitamin C
absorbsi besi nonhem meningkat empat
kali lipat. Vitamin C berperan dalam memindahkan besi dari transferin di dalam
plasma ke feritin hati. Vitamin C disamping itu membentuk gugus besi-askorbat
yang tetap larut pada pH lebih tinggi dalam duodenum. Selain itu vitamin C juga
menghambat pembentukan hemosiderin yang sukar dimobilisasi untuk membebaskan
besi bila diperlukan.
Defisiensi vitamin C dalam
jangka waktu lama dapat menyebabkan penyakit skorbut dengan gejala awal antara
lain lelah, lemah, napas pendek, kejang otot, sakit tulang dan persendian,
kurang nafsu makan, luka sukar sembuh, anemia, sel darah putih menurun, depresi
dan gangguan saraf. Sedangkan kelebihan vitamin C dari makanan tidak
menimbulkan gejala. Akan tetapi, konsumsi vitamin C berupa suplemen secara
berlebihan dapat menimbulkan hiperoksaluria dan resiko lebih tinggi terhadap
batu ginjal (Almatsier, 2003).
c. Vitamin B12
Vitamin B12 atau
kobalamin terdiri dari cincin miripprofirin seperti hem, yang mengandung kobalt
dan terikat pada ribose serta asam fosfat. Bentuk utama vitamin B12
pada makanan adalah 5-deoksie-denosikobalamin, metikobalamin dan
hidroksokobalamin. Vitamin B12 merupakan Kristal merah yang larut air. Warna
merah karena kehadiran kobalt. Vitamin B12 secara perlahan rusak
oleh asam encer, alkali cahaya dan bahan pengoksidasi serta reduksi (Iswari,
2006). Diungkapkan oleh Sediaoetama (1996) bahwa vitamin B12 yang
dikristalkan berwarna merah tua dan menjadi berwarna hitam pada pemanasan.
Selain itu Vitamin B12 juga merupakan satu-satunya vitamin yang
mengandung logam (cobalt) didalam struktur molekulnya.
Fungsi Vitamin B12
menurut Williams dan Wilkins (2007) yaitu sebagai pembentuk sel darah merah,
metabolisme sel dan nutrient, absorpsi besi, pertumbuhan jaringan dan
pemeliharaan sel saraf. Sementara menurut Auliana (2001) vitamin B12
berperan sebagai penjaga sel-sel saluran pencernaan, system urat saraf, dan
sum-sum tulang berfungsi normal, serta membentuk sel darah merah dan sintesa
nucleoprotein.
Dijelaskan oleh Bender dan
Mayes (2007) jika Vitamin B12 berfungsi sebagai donor metal,
S-adenosil metionin membentuk homosistein, yang dapat mengalami remetilasi oleh
metil-tetrahidrofolat dan dikatalisis oleh metionin sintase, suatu enzim
dependen-vitamin B12. Karena reduksi metilen –tetrahidrofolat
menjadi metal-tetrahidrofolat bersifat irevesibel dan sumber utama
tetrahidrofolat untuk jaringan adalah metil-tetrahidrofolat, peran metionin
sintase menjadi vital, dan merupakan penghubung antara fungsi folat dan vitamin
B12. Gangguan metionin sintase pada defisiensi vitamin B12
menyebabkan penimbunan metil-tetrahidrofolat. Oleh karena itu, terdapat
defisiensi fungsional folat sebagai efek sekunder dari defisiensi vitamin B12.
Menurut auliana (2001) sumber
vitamin B12 terdapat pada bahan makanan hewani dan hasil fermentasi
kedelai (tempe, tahu, dan kecap). Konsumsi vitamin B12 dianjurkan
sebesar 2 mcg /hari.
d. Asam Folat
Asam folat merupakan vitamin
berbentuk kristal berwarna oranye kekuningan, tidak memiliki rasa dan bau,
memiliki sifat larut didalam air dan tidak larut didalam minyak serta zat-zat
pelarut lemak seperti alkohol dan ether (Sediaoetama, 1996).
Asam folat bersifat relatif stabil dalam bentuk monoglutamat,
tapi dalam bentuk tri dan hepataglutamat tidak stabil. Dan akan lebih stabil
bila bersama vitamin C (Tejasari, 2005). Metabolisme asam folat sangat erat
berhubungan dengan fungsi vitamin B12 dan asam askorbat (vitamin C).
Defisiensi asam folat memberikan gambaran klinik
anemia megaloblastik di dalam sumsum tulang dan makrocytic di dalam darah perifer,
disertai leucopenia. Di daerah tropic defisiensi asam folat banyak terdapat
pada para wanita yang sedang hamil dan anak- anak. Pada anak-anak timbunan asam
folat yang rendah ketika dilahirkan disertai kebutuhan yang tinggi akan vitamin
ini untuk pertumbuhan pesat menyebabkan banyak anemia megaloblastik menyerang
kelompok umur ini (Sediaoetama, 1996).
Irianto (2007) menjelaskan fungsi asam folat adalah
sebagai pembuatan koenzim yang penting untuk memproduksi sel-sel darah merah
dan molekul-molekul protein. Kekurangan asam folat dapat berakibat diantaranya
kekurangan vitamin B12, Anemia megaloblastis (kegagalan sel darah
merah menjadi dewasa/masak) terutama terjadi didalam sumsum tulang.
Folat dalam makanan dapat memiliki hingga tujuh residu
glutamate tambahan yang dihubungkan oleh ikatan Y-peptida (Bender dan Mayes,
2007).
Diuraikan oleh Auliana (2001) bahwa anjuran konsumsi asam folat adalah
sebesar 200 mcg untuk pria dan 180 mcg untuk wanita /hari. Sementara sumber
asam folat di dalam makanan terdapat pada sayuran hijau, buah berwarna gelap
dan gandum. Sementara menurut Williams dan Wilkins, sumber asam folat banyak
terdapat pada buah sitrus, telur, sayuran, produk susu, makanan laut dan
padi-padian.
Komentar
Posting Komentar