Prestasi
olahraga yang tinggi perlu terus menerus dipertahankan dan ditingkatkan lagi
(Irianto, 2006). Bagi seorang atlet nutrisi dan kebugaran erat kaitannya. Makanan
berperan penting bagi olahragawan . hal ini berkaitan dengan kebutuhan energi
yang dibutuhkannya, selain untuk kebutuhan basal metabolisme juga untuk
kebutuhan latihan olahraga dan mencapai kebugaran fisik yang optimal, mampu
mencapai penampilan dalam kompetisi secara baik, untuk itu seorang atlet harus
memperoleh gizi yang tepat.
Untuk menunjang
prestasinya, olahragawan memerlukan nutrisi/zat gizi yang cukup, baik kualitas
maupun kuantitas (Irianto, 2007). Diit yang terbaik untuk olahragawan harus
diperhitungkan berdasarkan faktor fisiologi, psikologi, dan latar belakang sosial.
Untuk konsumsi zat-zat makro seperti karbohidrat, lemak, dan protein, telah
banyak direkomendasikan untuk atlet dari berbagai macam bidang olahraga, yang
pada umumnya penelitian dilakukan terhadap penampilan ketahanan atlet
dilapangan (Husaini, 1992).
Menurut Abidin
(2000), makanan olahragawan tidak jauh berbeda dengan non olahragawan kecuali
jumlah karbohidrat dan air. Peran utama mendukung tercapainya kondisi fisik yang
telah diperoleh melalui latihan dan tetap terpelihara. Menyediakan energi
sewaktu latihan dan bertanding, dianjurkan makan lebih dari 3x dengan pola
makan seimbang dan memperhatikan jenis asupan.
Sementara
menurut Primana (2000) pengaturan makan terhadap seorang atlet harus
individual. Pemberian makan harus memperhatikan jenis kelamin atlet, umur,
berat badan, serta jenis olahraga. Selain itu, pemberian makanan juga harus
memperhatikan periodisasi latihan, masa kompetisi, dan masa pemulihan.
Aktivitas olahraga
membutuhkan metabolisme optimal dari makronutrien seperti karbohidrat, lemak,
dan protein. Metabolisme optimal makronutrien tergantung dari adanya dan
ketersediaannya mikronutrien. Jika kebutuhan tercukupi atlet dapat tampil
maksimal dalam setiap aktifitas olahraga (Ranggasudira, 1994).
Pemenuhan asupan
gizi merupakan kebutuhan dasar bagi atlet olahraga. Hasil pengamatan pada
beberapa atlet dengan latar belakang berbagai cabang olahraga menunjukkan bahwa
gizi dan latihan fisik secara bersama-sama akan menghasilkan prestasi yang
baik. Namun demikian, saat ini perhatian terhadap pengaturan gizi atlet masih
sangat kurang, apalagi di tingkat daerah. Jika asupan gizi kurang, latihan
berat pun akan menjadi kurang bermanfaat. Hal ini bukan saja disebabkan rendahnya
gizi makanan atlet, melainkan buruknya kebiasaan atlet dalam hal pengaturan
makan (Widiastuti, 2009).
Makanan untuk
seorang atlet harus mengandung zat gizi sesuai dengan yang dibutuhkan untuk
aktifitas sehari-hari dan olahraga. Makanan harus mengandung zat gizi penghasil
energi yang jumlahnya tertentu. Selain itu makanan juga harus mampu mengganti
zat gizi dalam tubuh yang berkurang akibat digunakan untuk aktifitas olahraga
(Primana, 2000).
Keadaan gizi
kurang dan anemia gizi merupakan masalah gizi utama dan masalah masyarakat di
Indonesia (Tarwotjo et al cit Sulchan
dkk, 1992). Besarnya prevalensi anemia gizi memberikan dampak yang luas
terhadap ketahanan serta kebugaran fisik masyarakat maupun perorangan termasuk
olahragawan.
Anemia merupakan
salah satu masalah gizi mikro yang cukup serius dialami oleh negara berkembang
termasuk Indonesia. Saat ini prevalensi anemia defisiensi besi mencapai 36%
(1.400 juta orang) dari perkiraan populasi 3.800 juta di negara berkembang.
Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di Indonesia tahun 2001, prevalensi anemia
pada balita sebesar 48,1%, anak usia sekolah dan remaja sebesar 26,5%, WUS
20-29 tahun sebesar 25,3%, WUS 30-39 tahun sebesar 25,9%, WUS 40-49 tahun
sebesar 28,7% dan ibu hamil sebesar 40,1% (Briawan, 2009).
Anemia gizi yang
paling umum ditemukan di masyarakat adalah anemia gizi besi. Anemia gizi besi
berpengaruh terhadap daya tahan tubuh, yang pada akhirnya berdampak pada
penurunan kualitas kerja atau penurunan prestasi khusunya bagi olahragawan
serta penurunan mutu sumber daya manusia (Wirakusumah, 1998).
Bagi olahragawan
anemia gizi mampu mempengaruhi kebugaran jasmani. Kebugaran jasmani adalah
kemampuan seseorang untuk melakukan tugas fisik yang memerlukan kekuatan, daya
tahan, dan fleksibilitas (Rusli Lutan, 2001).
Kebugaran
jasmani sangat penting bagi seorang olahragawan, karena kebugaran jasmani yang
menjadi penunjang agar olahragawan dapat melakukan latihan keras yang
memerlukan kekuatan dan daya tahan serta mampu mencapai penampilan dalam
kompetensi secara baik.
Selain kebugaran
jasmani, kemungkinan faktor asupan makanan yang kurang baik merupakan salah
satu penyebab merosotnya prestasi olahraga atlet-atlet di Indonesia belakangan
ini (Widiastuti, 2008).
Komentar
Posting Komentar