Langsung ke konten utama

Hb & Anemia


Hemoglobin adalah suatu protein kompleks, yang tersusun dari protein globin dan suatu senyawa bukan protein yaitu hem. Hem merupakan senyawa rumit yang tersusun dari suatu senyawa lingkaran yang bernama porifin, yang bagian pusatnya ditempati oleh logam besi (Fe). Sehingga, hem adalah senyawa porifin-besi (Fe-porifin), sedangkan hemoglobin merupakan kompleks antara globin-hem (Sadikin, 2001).
Hemoglobin berfungsi untuk mengikat dan membawa O2 dari paru-paru untuk diedarkan dan dibagikan keseluruh sel di berbagai jaringan (Sadikin, 2001).
Menurut Supariasa, et al (2001) hemoglobin termasuk dalam protein heme yang berfungsi dalam pengikat dan pengangkutan oksigen. Pengukuran kadar hemoglobin merupakan parameter yang digunakan secara luas untuk menetapkan prevalensi anemia. Hemoglobin dapat diukur secara kimia dan jumlah Hb/100 ml darah dapat digunakan indeks kapasitas pembawa oksigen darah.
Pengukuran kadar hemoglobin yang dianjurkan oleh WHO adalah spektofotometer dengan menggunakan metode cyanmethemoglobin (Wirawan, 1995). Hal ini didukung oleh pernytaan DeMaeyer (1995) yang menerangkan bahwa menurut International Committee for Standardization in Hemogtology (ICSH) metode cyanmethemoglobin direkomendasikan untuk pengukuran hemoglobin karena mudah dilakukan dan mempunyai standar yang stabil. Selain itu DeMaeyer juga menjelaskan bahwa hampir semua jenis hemoglobin dapat terukur, selain sulfhemoglobin. Pada metode tersebut hemoglobin terlebih dahulu dioksidasi dengan kalium ferrosianida menjadi methehemoglobin yang kemudian bereaksi dengan ion sianida  (CN2-) membentuk sianmethemolobin yang berwarna merah. Intensitas warna dibaca dengan fotometer dan dibandingkan dengan standar. Media pembanding menggunakan alat elektronik sehingga hasil akan lebih objektif dan akurat. Namun fotometer saat ini masih cukup mahal, sehingga belum semua laboratorium memilikinya (Supariasa, 2001).

           Anemia merupakan suatu keadaan dengan kadar hemoglobin lebih rendah dari nilai normal. Anemia bisa juga berarti suatu kondisi ketika terdapat defisiensi ukuran atau jumlah eritrosit atau kandungan hemoglobin (Wirakusumah, 1998). Sementara menurut Hutasoit (2003),  anemia adalah suatu keadaan dimana ada penurunan hemoglobin (pemberi warna merah dan pengangkut oksigen darah) per unit volume darah dibawah kadar normal yang sudah ditentukan untuk usia dan jenis kelamin tertentu.
           Dikatakan oleh Hutasoit (2003), beberapa gejala anemia diantaranya yaitu:
a.   Efeknya pada kerja otot-otot adalah berkurangnya produktivitas kerja, berkurangnya kemampuan kerja dan berkurangnya kerja yang diperintah kehendak.
b.      Berkurangnya kebugaran fisik, lemah dan letih.
c.       Berkurangnya ketahanan pada dingin, tidak mampu mengatur suhu tubuh.
d.      Berkurangnya ketahanan terhadap infeksi (kekebalan menurun).
e.       Pangkal kuku, putihnya mata, telapak tangan pucat, kuku cekung.
     Hutasoit (2003), juga mengemukakan penyebab terjadinya anemia, yaitu:
a.       Kekurangan zat besi (anemia nutritional).
b.      Kehilangan darah (anemia hemorrhagica).
c.       Kekurangan vitamin B12 atau asam folat (anemia perniciousa).
Anemia yang terjadi pada atlet, biasa dikenal dengan sport anemia. Sport anemia adalah keadaan terjadinya kerusakan sel-sel darah sebagai akibat latihan berat yang pada umumnya menyebabkan kehilangan zat besi (Fe) sehingga kadar Hb menurun dibawah 12 % untuk wanita dan dibawah 13 % untuk pria (Irianto, 2007).
Dijelaskan lebih lanjut oleh Irianto (2007), bahwa penyebab terjadinya sport anemia antara lain:
a.       Ekskresi yang berlebihan melalui keringat pada keadaan tertentu, misalnya pada saat menstruasi bagi atlet wanita.
b.      Peningkatan kebutuhan zat besi karena terjadinya kerusakan sel darah merah.
c.       Defisiensi zat-zat gizi pembentuk darah, seperti protein, vitamin B12, asam folat dan zat besi, karena menurunnya nafsu makan maupun akibat program penurunan berat badan.
d.      Reaksi faali akibat latihan ketahanan fisik yang berat sehingga menimbulkan hemodilusi dan berakibat “Pseudoanemia”.

Komentar

post populer

Interaksi Obat & Makanan

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas : “ Farmakologi dan Imunologi Gizi“ Dosen Pengampu : . dr. Fitri Indah Setiyawati, M.Sc dan tim BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Hubungan dan interaksi antara makanan, nutrien yang terkandung dalam makanan dan obat saling mendukung dalam pelayanan kesehatan dan dunia medis. Makanan dan nutrien spesifik dalam makanan, jika dicerna bersama dengan beberapa obat, pasti dapat mempengaruhi seluruh ketersediaan hayati, farmakokinetik, farmakodinamik dan efek terapi dalam pengobatan. Makanan dapat mempengaruhi absorbsi obat sebagai hasil dari pengubahan dalam saluran gastrointestinal atau interaksi fisika atau kimia antara partikel komponen makanan dan molekul obat. Pengaruh tergantung pada tipe dan tingkat interaksi sehingga absorbsi obat dapat berkurang, tertunda, tidak terpengaruh atau meningkat oleh makanan yang masuk. 1.2 RUMUSAN MASALAH Berdasarkan pada latar belakang diatas maka makalah ini akan meni...

GASTRO ESOPHAGEAL REFLUX DISEASE (GERD) PADA ANAK

Makalah Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Dietetika Penyakit Infeksi dan Defisiensi BAB I PENDAHULUAN A.     L atar Belakang Masalah Refluks gastroesophageal adalah fenomena fisiologis normal dialami sesekali oleh kebanyakan orang, terutama setelah makan. Gastroesophageal reflux disease (GERD) terjadi ketika jumlah asam lambung yang refluks ke kerongkongan melebihi batas normal, menyebabkan gejala dengan atau tanpa cedera mukosa esofagus yang terkait (yaitu, esofagitis). Suatu penelitian yang dilakukan oleh Richter dan Organisasi Gallup memperkirakan bahwa Survei Nasional 25-40% orang Amerika dewasa yang sehat mengalami gejala GERD, paling sering dimanifestasikan secara klinis oleh pyrosis (mulas), setidaknya sebulan sekali. Selanjutnya, sekitar 7-10% dari populasi orang dewasa di Amerika Serikat mengalami gejala tersebut pada setiap hari. B.      Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas , maka k...

Asupan Inhibitor Absorbsi Zat besi

          Zat inhibitor besi adalah zat dalam bahan makanan yang dapat menghambat absorbsi besi (DeMaeyer, 1995). Absorbsi zat besi dapat dihambat oleh tingginya derajat sejumlah faktor pengkelat zat besi termasuk asam karbonat, asam oksalat, fosfat dan fitat. Faktor serat dalam sayuran dapat menghambat absorbsi zat besi (Kasdan, 2000).           Penyebab utama kekurangan zat besi adalah gangguan penyerapan zat besi non-hem karena adanya faktor inhibitor seperti asam fitat atau senyawa polifenol yang banyak terdapat dalam makanan nabati, buah-buahan, sayuran, rempah-rempah, kacang-kacangan, sereal dan yang paling tinggi terdapat   dalam teh, kopi, anggur merah, kakao dan berbagai macam teh herbal (Hurrell, 1999).       Fitat, asam oksalat, tanin bahkan fosfat yang ada dalam berbagai bahan makanan nabati cenderung membentuk endapan zat besi yang tidak larut yan...