“kamu
terlalu sempurna bagi saya, saya gak sepadan dengan kamu. Maaf saya yang salah
karena telah membiarkan rasa ini tumbuh dalam hati dan membuat kamu juga ikut
merasakan rasa ini” sebuah kata yang hingga detik ini masih terus terngiang dan
tak mungkin terlupa, sebuah penilaian dari seseorang akan diri q. Saya terlalu
sempurna, tidak sepadan, Tanya q dalam hati. Seakan tak percaya dengan semua
kata itu. “ kenapa kamu bisa bilang dan menilai saya seperti itu???” Tanya q
lebih lanjut. Dia diam sesaat seakan mencari- cari jawaban. “sikapmu” jawabnya
singkat. Q hanya mengerutkan kening, mencoba mencerna jawaban dia. Sikap q???
Tanya q dalam hati, adakah yang salah dengan sikap q selama ini. “ maksudnya??”
Tanya q lebih lanjut. Dia terdiam lagi dan menarik nafas,” kehidupan yang kamu
jalani terlalu sempurna sehingga membuatmu bersikap sesuka hati kamu. Kamu
bersikap seolah- olah orang lain tidak layak untuk hadir dikehidupanmu, kamu
bersikap seolah- olah orang lain rendah dimatamu, dengan kata- katamu, dengan tatapan
matamu, itu yang membuat kamu seperti orang angkuh dan benar- benar tak butuh
siapapun dalam hidup ini. Kamu terlalu mudah mendapatkan segala hal dalam
kehidupanmu, sehingga kamu tidak mengenal yang namanya usaha dan kerja keras,
itu juga yang membuat kamu menjadi tidak menghargai usaha keras pria- pria
sebelum aku yang berusaha menaklukkan hatimu, kamu selalu menolak mereka
mentah- mentah dan membuang mereka tanpa melihat dan menghargai usaha mereka
yang menurut aku sangat besar, hanya untuk bisa mendapatkan hatimu. Kamu belum
pernah sekalipun merasakan yang namanya kegagalan, jadi kamu tidak tau
bagaimana rasanya kecewa, kamu tidak tau bagaimana rasanya sedih, sakit dan
merana, dan aku yakin, kamu juga tidak tau
bagaimana rasanya menangis karena kegagalan. Yang kamu tau hanya hidup senang,
mendapatkan semuanya dengan mudah, selalu melewati hari dengan senyum
keangkuhan” dia kembali terdiam sambil menatap langit, sementara q hanya
berusaha mencerna maksud dari setiap perkataan yang baru saja dia ucapkan.
Terlalu mudah bagi dia untuk menilai q seperti itu, terlalu cepat buat dia bisa
memahami kehidupan q yang seperti ini, batin q sambil menahan air mata.
Hampir
1 jam kami melewati waktu malam itu dalam hening, entah apa yang ada dalam
fikiran dia, karena dalam fikir q sekarang adalah berusaha membangun semangat
yang telah runtuh karena penilaian dia. Malam ini ingin rasanya aku menangis,
menjerit, melepas semua beban dalam hidup ini. Fikir q memutar semua memori
menimbulkan bayangan- bayangan masa lalu di dalam otak q. Sampai akhirnya dia
bersuara “semua yang telah kita lewati dan semua rasa yang aku berikan untuk
kamu, anggap tdak pernah ada, dan lupakan saja semua yang aku ucapkan barusan”
ucapnya sambil berdiri dan melangkah meninggalkan tempat faforit bagi kami
berdua. Q membiarkan dia melangkah meninggalkan q dalam kesendirian malam,
semakin dia jauh. “ tunggu” ucap q datar, dan dia menghentikan langkahnya,
lantas menoleh kearah q, q menatap dia dan begitupun sebaliknya. Tapi q tak
mampu melanjutkan kata- kata q, hanya mampu terdiam menatap nya. Sampai
akhirnya dia melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga pertama, kedua, ketiga
dan dia terhenti karena pertanyaan yang q ucapkan, “kamu tau bagaimana rasanya
hidup menggunakan topeng kebahagiaan? Kamu tau bagaimana rasanya hidup
menggunakan topeng kesempurnaan?” q kembali diam dan tidak melanjutkan ucapan
q. dia berbalik dan berjalan mendekat kearah q, kemudian dia duduk kembali
disamping q, dia memeluk lututnya sambil menatap lurus kedepan. “maksudmu?”
tanyanya. “tidak ada maksud dari setiap kata yang akan q ucapkan, hanya
menyuruhmu lebih berfikir tentang hidup yang sesungguhnya dan jangan hanya
menilai orang dari kehidupan luarnya dan berusaha menyuruhmu untuk bisa
berfikir bagaimana rasanya hidup dalam ketidak sempurnaan tapi berperan seolah-
olah hidup itu sempurna”. Dia diam, semilir angin malam ini benar- benar mampu
membuat tubuh ini beku, tidak hanya tubuh, tapi mungkin juga hati q, kembali
beku olehnya. Q rebahkan tubuh ini diatap rumah tanpa alas apapun, di melihat
kearah q, lantas mengikuti apa yang baru saja q lakukan.
“kamu
tau rasa sakit batin dan juga raga yang tersakiti tidak hanya oleh karena
kekerasan fisik tapi juga karena kekerasan batin, kamu tau rasanya jadi orang
yang tidak diinginkan, disaat anak- anak yang berumur 2,5 tahun mendapat kasih sayang,
tapi sebaliknya ada seorang anak yang terus menerus mendapat siksaan dan hinaan
dari orang tuanya, anak itu masih terlalu polos untuk menerima perlakuan
sekasar itu, tapi kepolosannya itu lah yang membuat dia hingga detik ini mampu
mengingat semua hal yang dia alami saat dia masih kecil. kamu tau gimana
rasanya tersiksa oleh bayang- bayang itu. Kamu tau rasanya lumpuh karena
siksaan seorang ibu kandung, disaat anak sebayanya berlari- lari, dia harus
berjalan tertatih karena kelumpuhan yang ia derita, pada saat itu media masa
belum terlalu terbuka seperti saat ini, jika pada masa itu media masaa seperti
saat ini, maka sudah bisa dipastikan sang ibu tersebut akan dipenjara, tapi ibu
itu tidak salah, dia hanya frustasi karena suaminya selingkuh dan menikah lagi,
kamu tau rasanya berada ditengah- tengah mereka yang sedang bertengkar, saling
caci, saling bentak, sakit rasanya, sakit sekali. Kamu tau rasanya terbuang
dari sebuah keluarga, tinggal dengan orang lain dibesarkan, dan proses
pertumbuhan itu, dia dibesarkan kurang kasih sayang dari orang tua asuhnya.
Tapi anak itu berusaha tetap tumbuh menjadi remaja yang baik, karena dia memang
tumbuh dilingkungan yang baik. Dia berfikir penderitaan hidup telah usai. Tapi
ternyata tidak. Kembali dia mendapati sebuah kenyataan bahwa keluarga angkatnya
sama hancurnya karena hal yang sama yaitu perselingkuhan, saat dulu kecil ia
menjadi korban pelampiasan, ia hanya mampu menangis kemudian dibentak oleh sang
ibu, tapi saat dia telah remaja dia menjadi korban pelampisan untuk yang
kesekian kalinya, dan saat itu dia telah mampu merasakan bagaimana sakitnya
siksaan itu, membekas dihati dan juga badan. Kamu tau rasanya diperlakukan
semena- mena dan harga dirimu diinjak- injak, kamu tau bagaimana sakit dan
mirisnya, saat hendak melawan orang yang telah menyakiti kamu, tapi kamu tidak
mampu karena alas an hutang budi. Dan kamu tau bagaimana sakitnya saat
kehormatan dan kesucian kamu harus terenggut oleh orang yang seharusnya
melindungi kamu, menggantikan figure seorang ayah yang telah hilang dari
kehidupan dia, tapi justru menghancurkan kehidupan kamu. Jangan kamu berfikir
karena kamu pria, coba kamu posisikan kamu sebagai seorang wanita tersebut,
yang harus rela kehilangan kehormatan serta kesuciannya. Dan disaat yang
bersamaan pula dia mendapati keluarga aslinya yang merasa kasihan dengan
penderitaan anaknya tersebut, tapi kamu tau gimana sakit nya mendapati bahwa
kamu gak lebih hanyalah anak dari seorang Bandar narkoba kelas internasional
yang telah menjadi buronan. Dan satu lagi kamu tau bagaimana rasanya berperan
menjadi orang baik- baik yang seakan suci padahal sebenarnya badanmu telah
hancur dan benar- benar kotor. Bayangkan kalau kamu menjadi dia, sanggupkah
kamu melewati semua masalah itu tanpa beban dan seolah- olah hidup kamu bahagia
tanpa masalah” aku terdiam sejenak, tenggorokan q sekan tercekat tak mampu lagi
berkata- kata, butir air mata nyaris keluar, suara q menjadi parau menahan
tangis.
“hanya
mendengarnya saja, aku sudah tak sanggup, dan aku tak bisa membayangkan kalau
seandainya aku menjadi anak itu, terlalu berat bagi q, mungkin aku akan memilih
untuk bunuh diri” ucapnya simpati. Tapi aku hanya menanggapinya dengan
tersenyum sinis. “lalu bagaimana nasib anak itu sekarang, dia temen kamu ya???
Apa dia masih hidup?? Tanya nya penasaran. Aku terdiam dan berusaha
mengumpulkan kekuatan untuk meneruskan kisah q.
“
dia masih hidup, ya dia teman q, dia teman yang menyatu dengan raga q, tak ada
yang pernah tau cerita dia yang sesungguhnya, dia berhasil dan sukses
menyembunyikan semua masalahnya, dia mampu bersikap sempurna seolah- olah
kehidupan sempurnalah yang dia jalani. Dia tak peduli dengan kehidupan
sekitarnya, yang dia tau hanya berusaha tampil menjadi manusia yang terlahir
sempurna, karena jika dia lengah sedikit maka dia sangat takut kehidupan
sesungguhnya akan terbongkar, dan dia tidak mau hal itu terjadi. Dia tak
percaya lagi pada laki- laki, baginya sudah tak ada celah dihatinya untuk laki-
laki, karena jika laki- laki tau kehidupan yang sesungguhnya dia pasti hanya
akan dianggap sampah. Huff dan sekarang dia benar- benar yakin bahwa semua
aktingnya sempurna” aku terdiam dan menoleh kearah dia sambil tersenyum getir,
entah dia sadar atau tidak, cahaya bulan dan bintang sepertinya tidak mampu
menunjukkan senyum getir q. “bagaimana kamu bisa yakin kalau aktingnya itu
sempurna?? Tanya nya lebih lanjut. Aku bangkit dan berdiri lantas menatap dia
yang masih dalam posisi terbaring dan menunggu jawaban q.
“aku
tau dan yakin, karena seseorang datang padanya kemudian berucap seperti ini,”
kehidupan yang kamu jalani terlalu sempurna sehingga membuatmu bersikap sesuka
hati kamu. Kamu bersikap seolah- olah orang lain tidak layak untuk hadir
dikehidupanmu, kamu bersikap seolah- olah orang lain rendah dimatamu, dengan
kata- katamu, dengan tatapan matamu, itu yang membuat kamu seperti orang angkuh
dan benar- benar tak butuh siapapun dalam hidup ini. Kamu terlalu mudah
mendapatkan segala hal dalam kehidupanmu, sehingga kamu tidak mengenal yang
namanya usaha dan kerja keras, itu juga yang membuat kamu menjadi tidak
menghargai usaha keras pria- pria sebelum aku yang berusaha menaklukkan hatimu,
kamu selalu menolak mereka mentah- mentah dan membuang mereka tanpa melihat dan
menghargai usaha mereka yang menurut aku sangat besar, hanya untuk bisa
mendapatkan hatimu. Kamu belum pernah sekalipun merasakan yang namanya
kegagalan, jadi kamu tidak tau bagaimana rasanya kecewa, kamu tidak tau
bagaimana rasanya sedih, sakit dan merana,
dan aku yakin, kamu juga tidak tau bagaimana rasanya menangis karena
kegagalan. Yang kamu tau hanya hidup senang, mendapatkan semuanya dengan mudah,
selalu melewati hari dengan senyum keangkuhan” aku tersenyum mengikuti kata-
kata yang baru saja beberapa menit lalu dia ucapkan untuk q. dia terkejut dan
bangkit dari posisinya saat ini, dia memegang kedua pundak q, dan sedikit
menggoncangkan tubuh q “orang itu kamu??? Tanya nya tak percaya
“ya,
orang yang aku maksud adalah aku, salah besar kalau kamu menilai aku seperti
itu, tapi setidaknya aku punya alas an tersendiri kenapa aku bersikap seperti
itu, dan sekarang, bukan nya kamu yang tak pantas untuk q, tapi aku yang tak
pantas untuk kamu, dan jangan kamu fikir aku tak tau, kamu hanya ingin
menjadikan q sebagai selingan saja, dan kemudian kamu ingin membuat q merana,
dan selamat kamu sukses melakukan itu. Anggap diantara kita tak pernah ada
sebuah kisah dan sebuah cerita, aku sudah mulai terbiasa dengan sakit hati dan
kegagalan, aku bisa terima itu” ucap q sambil melepas tangan nya dari pundak q
dan berjalan pergi meninggalkan dia
“tunggu”
ucapnya. Aku berhenti melangkahkan kaki, tanpa menoleh “aku minta maaf, aku
benar- benar hanya ingin membuat mu bahagia dan merubah anggapan bahwa semua
laki- laki itu sama, tapi aku termakan oleh permaianan yang aku buat sendiri
aku….” Tanpa sempat mendengar ucapan nya lebih lanjut, q berlari meninggalkan
dia, sambil menangis ya dan benar- benar aku menangis, oh kehidupan, kehidupan
seperti apa lagi yang aku jalani kelak, dengan sisa kisah dalam diri ini…dan
kamu tau… bagaimana rasanya menjadi aku????
Komentar
Posting Komentar