Langsung ke konten utama

Gizi Seimbang Dalam Kesehatan Reproduksi

Oleh: Setyowati, SKM.,M.Kes

Keadaan kesehatan remaja erat kaitannya dengan gizi. Gizi kurang, gizi lebih & anemia merupakan tiga masalah gizi pada usia ini. Gizi diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental serta kesehatan. Gizi juga diperlukan untuk fertilitas atau kesuburan.

Terdapat tiga area perubahan vital yang terjadi pada remaja, yaitu perubahan dalam pertumbuhan fisik menyangkut pertumbuhan dan kematangan organ reproduksi, perubahan bersosialisasi dan perubahan kematangan kepribadian serta kesehatan.

Gizi dan Pubertas
Pubertas (akil balik)adalah suatu masa pematangan kapasitas reproduksi. Pada anak perempuan ditandai dengan menstruasi. Cepat lambatnya seseorang mengalami pubertas antara lain dipengaruhi oleh keadaan gizi. Seorang anak yang gizinya kurang baik akan terlambat akil baliknya.

Remaja wanita 15 – 21 tahun mempunyai peranan yang sangat penting karena merupakan persiapan calon ibu.

Gizi Kurang dan Kesehatan Reproduksi 
Gizi kurang pada seseorang akan berdampak penurunan fungsi reproduksi. Salah satu penyebab gizi kurang adalah anoreksia nervousa yang menyebabkan asupan gizi kurang sehingga berdampak pada penurunan berat badan. Penurunan berat badan merupakan efek dari terjadi perubahan hormonal dimana kadar gonadrotopin menurun, serta penurunan pola sekresinya. Kejadian tersebut berhubungan dengan gangguan fungsi hipotalamus.

Gizi kurang selain menyebabkan penurunan berat badan juga dapat menyebabkan anemia dan penurunan daya tahan tubuh.

Pada wanita, gizi kurang akan berpengaruh pada kadar hormone steroid sehingga menyebabkan perubahan siklus ovulasi (siklus haid tidak normal)

Gizi Lebih dan Kesehatan Reproduksi
pada umumnya peningkatan berat badan disebabkan karena asupan gizi berlebihan. Wanita gemuk beresiko mengalami gangguan hormonal, bila siklus berlangsung tanpa ovulasi ini menunjukkan adanya kelainan pada pengeluaran hormone.

Pemberian diet rendah lemak akam memperpanjang siklus, hari menstruasi serta memperpanjang lamanya fase fasefolikuler.

Tubuh yang terlalu gemuk, selain menjadi sumber penyakit, juga dapat menurunkan nilai keindahan tubuh, hingga secara psikis dapat membuat pasangan kurang tertarik.

Anemia dan Kesehatan Reproduksi 
Pada saat haid, wanita akan kehilangan darah sebanyak kurang lebih antara 20 – 80 cc darah dalam sehari. Wanita yang mengalami haid yang lebih berat akan kehilangan darah yang lebih banyak, sehingga dapat menyebabkan anemia. Kehilangan cairan pada saat haid harus digantikan dengan minum air yang cukup. Sementara dalam darah yang terbuang, terkandung zat besi yang sangat dibutuhkan tubuh. Jika seorang wanita mengalami kekurangan zat besi maka akan timbul gejala: lelah, letih, lesu, pucat, rambut rontok, mudah marah, lemah dan gangguan fungsi pertahanan tubuh.

Untuk mencegah terjadinya anemia, sebaiknya setiap wanita mencukupi dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi. Makanan yang banyak mengandung zat besi diantaranya daging, ayam, ikan, kacang- kacangan dan sereal. Namun hati- hati dengan daging dan produk dengan bahan dasar susu termasuk es krim dapat meningkatkan produksi prostaglandin yang dapat memicu nyeri.

Prostaglandin adlah kimia dalam sel yang dapat menyebabkan kontraksi otot. Kram menstruasi terjadi ketika rahim berkontraksi untuk mengusir kelebihan darah dan jaringan yang terbentuk pada paruh kedua dari siklus menstruasi.

Remaja yang anemia dan kurang berat badan lebih banyak melahirkan bayi BBLR dibandingkan dengan wanita yang usia reproduksinya aman untuk hamil.

Gizi Seimbang dengan Kesehatan Reproduksi 
Gizi seimbang adalah pemenuhan kebutuhan gizi sehari dengan asupan zat gizi makanan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air.

Kebutuhan gizi orang dewasa dengan berat normal adalah sekitar 2000 – 22—kkal perhari, sedangkan pada remaja 1800 kkal perhari. Kebutuhan energy diperlukan untuk kegiatan sehari – hari maupun untuk proses metabolism tubuh. Sedangkan protein diperlukan untuk pertumbuhan.

Asupan gizi seperti karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin dan mineral harus sesuai dengan kebutuhan tubuh. Kecukupan zat gizi dalam tubuh akan mencegah terjadinya impotensi pada pria dan menopause yang terlalu dini pada wanita. Selain itu, kualitas dan kuantitas makanan yang seimbang dan baik sesuai kebutuhan tubuh perlu diperhatikan agar tubuh ideal, bugar, dan dapat beraktivitas seksual dengan baik.

Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) dapat digunakan sebagai pedoman/ panduan bagi seseorang untuk mencapai dan memelihara kesehatan dan kesejahteraan gizi, yaitu untuk mencapai status gizi yang baik dan benar. Jangan lupa untuk mengkombinasikan pola gizi seimbang dengan olahraga yang rutin dan hindari stress serta kelelahan yang berlebihan.

Berikut ini beberapa zat gizi yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi:
1.Kolesterol
Kolestrol berguna sebagai bahan baku pembentukan hormone seks. “bila ingin tetap sehat secara seksual, usahakan kadar kolestrol dalam darah tetap dalam kondisi normal”. Beberapa zat gizi yang dibutuhkan dalam metabolisme kolestrol antara lain vitamin B kompleks, vitamin C, vitamin E, magnesium, mangan dan seng. Beberapa jenis makanan yang mengandung kolestrol terdapat pada produk- produk hewani seperti kuning telur, susu, daging, dan seafood.

2. Vitamin dan Mineral
Vitamin A, vitamin B12, dan zat gizi lain dapat meningkatkan produksi spermatogenesis. Vitamin E, asam folat, magnesium, seng, kalsium, sulfur, dan inositol juga berperan dalam menjaga kesehatan seksual. Seng merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam proses pematangan alat kelamin pada masa remaja. Pengaruhnya secara langsung adalah meningkatkan kadar plasma testosterone dan FSH atau follicle stimulating hormone agar produksi sperma meningkat.

Pria yang punya keluhan lemah organ seks dan produksi cairan spermanya rendah hingga tak dapat membuahi sel telur, dianjurkan mengkonsumsi mineral seng agar aktivitas kelenjar- kelenjar seksnya dapat diperbaiki. Sumber mineral seng terdapat pada keju cheddar, kepiting, daging kambing muda, kacang tanah, hati, ragi, kerang, ikan, dan udang. Adapun angka kecukupan seng yang dianjurkan untuk orang dewasa pria dan remaja pria adalah 15 miligram per hari. Sedangkan pada wanita 12 miligram per hari. Dalam aspek reproduksi, mineral seng tidak dapat diabaikan karena ia sangat diperlukan dalam produksi sperma, perkembangan janin, dan tumbuh kembang anak.

Kekurangan vitamin E juga akan menyebabkan kelenjar testis mengalami degenerasi atau penurunan fungsi hingga tak bekerja secara optimal. Akibatnya, terjadi gangguan reproduksi dan kesuburan. Sumber vitamin E seperti kacang- kacangan dan minyak nabati disebut- sebut sebagai gizi pembangkit gairah.
Pada wanita, anjuran untuk mengkonsumsi asam folat, vitamin E, dan mineral seng berhubungan dengan aktifitas hormone esterogen dan progesterone. Hormone- hormone inilah yang berperan dalam system reproduksi wanita serta gairah seksualnya. Frigiditas pada wanita bila diteliti l;ebih lanjut, ternyata disebabkan kekurangan vitamin B1 atau thiamin dan mineral seng. Untuk itu pada wanita dianjurkan untuk mengkonsumsi kacang- kacangan, padi- padian, biji- bijian, hati, telur, daging, dan seafood.

NB: semoga tulisan diatas bermanfaat dan bisa menambah info pengetahuan bagi teman- teman semua. Saya copy kan langsung sesuai dengan tulisan dari narasumbernya, tanpa saya kurangi atau saya tambahkan… materi ini disampaikan dalam (Seminar Nasional 2011 EFEK “ IMBALANCE NUTRITION” TERHADAP KESEHATAN REPRODUKSI. Pada 24 september 2011, bertempat di JEC)

Komentar

post populer

Interaksi Obat & Makanan

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas : “ Farmakologi dan Imunologi Gizi“ Dosen Pengampu : . dr. Fitri Indah Setiyawati, M.Sc dan tim BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Hubungan dan interaksi antara makanan, nutrien yang terkandung dalam makanan dan obat saling mendukung dalam pelayanan kesehatan dan dunia medis. Makanan dan nutrien spesifik dalam makanan, jika dicerna bersama dengan beberapa obat, pasti dapat mempengaruhi seluruh ketersediaan hayati, farmakokinetik, farmakodinamik dan efek terapi dalam pengobatan. Makanan dapat mempengaruhi absorbsi obat sebagai hasil dari pengubahan dalam saluran gastrointestinal atau interaksi fisika atau kimia antara partikel komponen makanan dan molekul obat. Pengaruh tergantung pada tipe dan tingkat interaksi sehingga absorbsi obat dapat berkurang, tertunda, tidak terpengaruh atau meningkat oleh makanan yang masuk. 1.2 RUMUSAN MASALAH Berdasarkan pada latar belakang diatas maka makalah ini akan meni...

GASTRO ESOPHAGEAL REFLUX DISEASE (GERD) PADA ANAK

Makalah Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Dietetika Penyakit Infeksi dan Defisiensi BAB I PENDAHULUAN A.     L atar Belakang Masalah Refluks gastroesophageal adalah fenomena fisiologis normal dialami sesekali oleh kebanyakan orang, terutama setelah makan. Gastroesophageal reflux disease (GERD) terjadi ketika jumlah asam lambung yang refluks ke kerongkongan melebihi batas normal, menyebabkan gejala dengan atau tanpa cedera mukosa esofagus yang terkait (yaitu, esofagitis). Suatu penelitian yang dilakukan oleh Richter dan Organisasi Gallup memperkirakan bahwa Survei Nasional 25-40% orang Amerika dewasa yang sehat mengalami gejala GERD, paling sering dimanifestasikan secara klinis oleh pyrosis (mulas), setidaknya sebulan sekali. Selanjutnya, sekitar 7-10% dari populasi orang dewasa di Amerika Serikat mengalami gejala tersebut pada setiap hari. B.      Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas , maka k...

Asupan Inhibitor Absorbsi Zat besi

          Zat inhibitor besi adalah zat dalam bahan makanan yang dapat menghambat absorbsi besi (DeMaeyer, 1995). Absorbsi zat besi dapat dihambat oleh tingginya derajat sejumlah faktor pengkelat zat besi termasuk asam karbonat, asam oksalat, fosfat dan fitat. Faktor serat dalam sayuran dapat menghambat absorbsi zat besi (Kasdan, 2000).           Penyebab utama kekurangan zat besi adalah gangguan penyerapan zat besi non-hem karena adanya faktor inhibitor seperti asam fitat atau senyawa polifenol yang banyak terdapat dalam makanan nabati, buah-buahan, sayuran, rempah-rempah, kacang-kacangan, sereal dan yang paling tinggi terdapat   dalam teh, kopi, anggur merah, kakao dan berbagai macam teh herbal (Hurrell, 1999).       Fitat, asam oksalat, tanin bahkan fosfat yang ada dalam berbagai bahan makanan nabati cenderung membentuk endapan zat besi yang tidak larut yan...