Langsung ke konten utama

Sekilas Tentang Zat Besi (Fe)

a.       Pengertian Zat Besi
       Zat besi merupakan mikroelemen yang esensial bagi tubuh. Zat ini sangat diperlukan dalam hemopoesis (pembentukan Hb), yaitu dalam sintesa Hb. Selain itu berbagai jenis enzim memerlukan zat besi sebagai faktor penggiat (Sediaoetama, 2000). Sementara menurut Burke dan Deakin (1994) menyatakan, bahwa zat besi merupakan komponen utama dari Hb yang bertugas membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh untuk proses metabolisme energi. Kekurangan zat besi dapat mengakibatkan timbulnya anemia yang berakibat melemahnya metabolisme aerobik dan berakibat pada penurunan kapasitas aerobik dari atlit.
b.      Manfaat Zat Besi
       Sharkey (2003) menjelaskan bahwa zat besi memiliki fungsi digunakan dalam myoglobin otot untuk membawa dan menyimpan oksigen, dan dalam enzim oksidasi (aerobik). Individu yang kekurangan zat besi rentan terhadap anemia dan memiliki daya tahan tubuh yang buruk. Karena hanya 10 % hingga 20 % zat besi dalam makanan yang diserap ke dalam aliran darah, atlet membutuhkan zat besi 10 kali lebih banyak.
             Sementara menurut Budiyanto (2002) fungsi zat besi antara lain adalah:
1)      Untuk pembentukan hemoglobin baru.
2)      Untuk mengembalikan hemoglobin pada nilai normalnya setelah terjadi perdarahan.
3)    Untuk mengimbangi sejumlah kecil zat besi yang secara konstan dikeluarkan tubuh terutama lewat urin, feces dan keringat.
4)      Untuk menggantikan kehilangan zat besi lewat tubuh.
c.       Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Absorbsi Zat Besi
       Menurut Wirakusumah (1998), ada tiga faktor utama yang mempengaruhi jumlah zat besi yang diserap oleh tubuh, yaitu ketersediaan zat besi didalam tubuh, bioavailabilitas zat besi, dan adanya faktor penghambat penyerapan zat besi.
       Bentuk zat besi didalam makanan berpengaruh terhadap penyerapannya. Bentuk zat besi hem dapat diserap dua kali lipat daripada zat besi non hem. Kurang lebih 40 % dari zat besi didalam daging, ayam dan ikan terdapat sebagai zat besi hem dan selebihnya sebagai non hem. Zat besi non hem juga terdapat didalam telur, serealia, kacang-kacangan, sayuran hijau dan beberapa jenis buah-buahan. Makan zat besi hem dan non hem secara bersama dapat meningkatkan absorbsi zat besi non hem. Daging, ayam dan ikan mengandung suatu faktor (terdiri atas asam amino yang mengikat zat besi) yang membantu penyerapan zat besi( Almatsier, 2002).
       Dijelaskan oleh Arisman (2003) bahwa kebiasaan mengkonsumsi makanan yang dapat menggangu penyerapan zat besi (seperti kopi dan teh) secara bersamaan pada waktu makan menyebabkan serapan zat besi semakin rendah.
       Peranan vitamin C dalam kaitannya dengan zat besi adalah sebagi enhancer yang kuat dalam mereduksi ferri menjadi ferro, sehingga mudah diserap dalam pH > 3 seperti yang ditemukan pada duodenum dan usus halus (Pamungkasiwi, 2006).
       Asam organik, seperti vitamin C membantu penyerapan zat besi non hem dengan merubah bentuk ferri menjadi ferro. Selain itu vitamin C juga membentuk gugus zat besi-askorbat yang tetap larut pada pH tinggi dalam duodenum (Almatsier, 2002). Protein merupakan enhancer absorbsi yang baik, terutama sumber protein hewani (Monsen, et al., 1979).
       Menurut Almatsier (2001) tingkat keasaman lambung meningkatkan daya larut besi. Kekurangan asam klorida didalam lambung atau penggunaan obat-obatan yang bersifat basa seperti antasid menghalangi absorbsi besi. Faktor intrinsik didalam lambung membantu penyerapan besi, diduga karena hem mempunyai struktur yang sama dengan vitamin B12. Kebutuhan tubuh akan besi berpengaruh besar terhadap absorbsi besi. Bila tubuh kekurangan besi atau kebutuhan meningkat pada masa pertumbuhan, absorbsi besi-nonhem dapat meningkat sampai sepuluh kali, sedangkan  besi-hem dua kali.
Tabel 1. Faktor yang berpengaruh dalam penyerapan zat besi
Dikutip dari “Preventing and controlling iron deficiency anemia through primary health care : a guide for health administrator and programme manager “
oleh EM DeMayer, WHO 1989
Faktor yang berpengaruh dalam penyerapan zat besi
Faktor makanan :
1.    Faktor yang memacu penyerapan zat besi bukan heme :
a.    Vitamin C
b.    Daging, unggas, ikan, makanan laut lain
c.    pH rendah
2.    Faktor yang menghambat penyerapan zat besi bukan heme:
a.   Fitat
b.  Polifenol
Faktor penjamu (host) :
1.    Status zat besi
2.    Status kesehatan (infeksi, malabsorpsi)

Sumber : Arisman, 2003

Komentar

post populer

Interaksi Obat & Makanan

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas : “ Farmakologi dan Imunologi Gizi“ Dosen Pengampu : . dr. Fitri Indah Setiyawati, M.Sc dan tim BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Hubungan dan interaksi antara makanan, nutrien yang terkandung dalam makanan dan obat saling mendukung dalam pelayanan kesehatan dan dunia medis. Makanan dan nutrien spesifik dalam makanan, jika dicerna bersama dengan beberapa obat, pasti dapat mempengaruhi seluruh ketersediaan hayati, farmakokinetik, farmakodinamik dan efek terapi dalam pengobatan. Makanan dapat mempengaruhi absorbsi obat sebagai hasil dari pengubahan dalam saluran gastrointestinal atau interaksi fisika atau kimia antara partikel komponen makanan dan molekul obat. Pengaruh tergantung pada tipe dan tingkat interaksi sehingga absorbsi obat dapat berkurang, tertunda, tidak terpengaruh atau meningkat oleh makanan yang masuk. 1.2 RUMUSAN MASALAH Berdasarkan pada latar belakang diatas maka makalah ini akan meni...

GASTRO ESOPHAGEAL REFLUX DISEASE (GERD) PADA ANAK

Makalah Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Dietetika Penyakit Infeksi dan Defisiensi BAB I PENDAHULUAN A.     L atar Belakang Masalah Refluks gastroesophageal adalah fenomena fisiologis normal dialami sesekali oleh kebanyakan orang, terutama setelah makan. Gastroesophageal reflux disease (GERD) terjadi ketika jumlah asam lambung yang refluks ke kerongkongan melebihi batas normal, menyebabkan gejala dengan atau tanpa cedera mukosa esofagus yang terkait (yaitu, esofagitis). Suatu penelitian yang dilakukan oleh Richter dan Organisasi Gallup memperkirakan bahwa Survei Nasional 25-40% orang Amerika dewasa yang sehat mengalami gejala GERD, paling sering dimanifestasikan secara klinis oleh pyrosis (mulas), setidaknya sebulan sekali. Selanjutnya, sekitar 7-10% dari populasi orang dewasa di Amerika Serikat mengalami gejala tersebut pada setiap hari. B.      Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas , maka k...

Asupan Inhibitor Absorbsi Zat besi

          Zat inhibitor besi adalah zat dalam bahan makanan yang dapat menghambat absorbsi besi (DeMaeyer, 1995). Absorbsi zat besi dapat dihambat oleh tingginya derajat sejumlah faktor pengkelat zat besi termasuk asam karbonat, asam oksalat, fosfat dan fitat. Faktor serat dalam sayuran dapat menghambat absorbsi zat besi (Kasdan, 2000).           Penyebab utama kekurangan zat besi adalah gangguan penyerapan zat besi non-hem karena adanya faktor inhibitor seperti asam fitat atau senyawa polifenol yang banyak terdapat dalam makanan nabati, buah-buahan, sayuran, rempah-rempah, kacang-kacangan, sereal dan yang paling tinggi terdapat   dalam teh, kopi, anggur merah, kakao dan berbagai macam teh herbal (Hurrell, 1999).       Fitat, asam oksalat, tanin bahkan fosfat yang ada dalam berbagai bahan makanan nabati cenderung membentuk endapan zat besi yang tidak larut yan...